Ujungjaya, Korsum
Sesuai dengan pernyataan pihak Kejaksaan Negeri Sumedang, yang menyatakan bahwa 99 persen Bantuan Provinsi yang melalui pos bantuan diduga salah penggunaanya, maka Korsum melakukan investigasi langsung ke salah satu penerima dana bantuan ini di wilayah Ujungjaya. Investigasi Korsum dilakukan ke Pondok Pesantren Fadlailul Hidayah, yang beralamat di Dusun Borojol, Desa Suka Mulya, Kecamatan Ujung Jaya, yang merupakan salah satu penerima pos bantuan dan diduga menyalahgunakan bantuan tersebut.
Dari investigasi yang dilakukan, Korsum mendapat keterangan dari beberapa warga dan pemerintah setempat, bahwa kalau dilihat secara kasat mata dari hasil pelaksanaan rehab, ternyata menurut mereka rehab tersebut tidak senilai dengan dana bantuan yang diterima pihak pesantren, sebesar 40 Juta rupiah. Menurut mereka, tidak mungkin hasil rehab seperti itu menghabiskan dana sampai 40 juta.
Pihak pemerintah setempat, ketika ditanya mengenai dana pos bantuan yang diterima pesantren tersebut menyatakan bahwa pihaknya kurang mendapat laporan mengenai adanya bantuan tersebut. “Padahal, saat akan membuat proposal pihak kami ikut menandatangani, tapi kenyataanya setelah cair kami malah tidak tahu. Selain itu, kami juga menyesalkan tindakan pihak pontren tersebut yang tidak menepati janji yang telah disepakati bersama,” ujarnya.
“Kesepakatan tersebut diantaranya, kami selaku pemerintah desa memprihatinkan jalan yang menuju pontren tersebut sehingga kami meminta kebijakan pimpinan pontren, bila sudah cair menyisihkan untuk memperbaiki jalan menuju wilayahnya sepanjang 50 meter. Saat itu kami bersama sepakat, tapi setelah cair dana tersebut tidak diberikan, padahal untuk kabaikan pontrennya juga. Itu yang kami sayangkan sampai saat ini juga, yang akhirnya untuk merehab jalan tersebut tetap saja desa yang bertanggung jawab, karena kami malu terhadap masyarakat yang sudah tahu jalannya akan diperbaiki,” tambahnya.
“Sedangkan, pelaksanaan rehab itu sendiri rasanya tidak senilai dengan uang bantuan yang diberikan pemerintah. Secara kasat mata juga kita bisa melihat berapa biaya yang dihabiskan untuk merehab pondok tersebut. Yang kami dengar, hanya memperbaiki kusen dan memasang kaca saja. Itu paling hanya menghabiskan 5 jutaan, sementara sisanya kemana?” tuturnya.
“Selain itu, aktivitas sehari-hari juga tidak jelas. Hanya imtihan saja ramai oleh santri-santri yang sengaja didatangkan dari tempat pengajian di luar pontren itu. Yang merupakan anak didik dari almamater pontren tersebut, yang dulu menghasilkan santri, kalau tidak salah delapan santri bekas muridnya dulu yang sekarang sudah mempunyai murid sendiri. Sedangkan pontrennya sendiri hanya mempunyai murid beberapa gelintir saja,” paparnya.
Sementara itu, ketika Korsum akan menemui pimpinan pontren, Ustad Umed sang pemimpin pontren, selalu tidak ada di tempat. Korsum telah datang tiga kali, tapi yang ditemui hanya pondok pesantren yang kosong, yang terkesan tidak terpelihara sehingga keadaanya semrawut. Sampai berita ini diturunkan, dari pihak pontren belum ada keterangan apapun. **[Endang Baron|Malik]