<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>
polling

Perolehan polling sementara calon bupati 2013-2018

Share Tweet Baca Selangkapnya »

edisi

Tahukah Anda, Sumedang Termiskin di Jabar?

Bila saja Pangeran Mekah, salah satu pendiri Sumedang yang paling fenomenal dan visioner, melihat kota sumedang saat ini, mungkin akan menitikkan air mata,  bahkan membuat gundah di alam sana.  Betapa tidak, beberapa Baca Selangkapnya »

Graphic1

Bersyukur Hidup Di Sumedang

Bersyukur hidup di sumedang.  Daerah sejuk dengan suhu ruang rata 26 derajat Celcius, dari 26 kecamatan dan 279 Desa dan kelurahan secara merata kaya dengan hasil alam, ngarai dan lembah membentang di Baca Selangkapnya »

Category Archives: PILPRES 2009

Diperketat Keamanan Pelantikan Anggota DPRD

Kota, Korsum

Pelantikan anggota DPRD yang akan digelar pada hari Kamis, (13/8), akan diperketat keamannya. Pelantikan ini akan dihadiri dengan estimasi tamu undangan berjumlah masing-masing untuk VIP 202 orang di ruang paripurna, dan undangan lainnya 1.400 orang yang akan ditempatkan di tenda dan ruangan yang telah disediakan. Acara pelantikan ini akan diadakan cukup meriah, oleh karena itu Kompol Yeni, sebagai Wakapolres yang memimpin keamanan, akan melakukan kerja sama dengan Brimob. “Keamanan ini bekerjasama dengan kesatuan Brimob,” tuturnya.

Pelatihan Saksi Tim SBY-Budiono “Sempat Bersitegang”

Kota, Korsum

Pelatihan saksi dari Tiem sukses Susilo Bangbang Yudoyono dan Budiono yang dilaksanakan pada hari jumat tanggal 3/7 sekitar jam 13.30 sempat bersitegang, hal ini di akibatkan cemburu social antar partai pendukungnya, yakni partai Demokrat dan Partai PKS, kronologis bersitegang ini berawal adanya SK dari pusat tentang pengelolaan saksi yang diberikan kekuasaan penuh kepada PKS.

Pelatihan yang di ikuti oleh para peserta saksi dari dua partai itu berasal dari dua Dapil,yakni dapil 3 dan 4, jumlah peserta yang ditargetkan sebanyak 800 peserta. Menurut pantauan Korsum dilapangan, pelatihan itu sempat dihebohkan ketika ada kejelasan bahwa saksi didominasi oleh para kader PKS, sedangkan para kader dari Demokrat tidak dilibatkan, dengan fenomena seperti itu sontak secara serentak para Kader dari Demokrat menyatakan mundur dan mempersilakan kelola oleh PKS semuanya.

Menurut para kader partai Demokrat yang dinyatakan sebagai tuan rumah dari pasangan SBY-Budiono, yang enggan menyebutkan identitasnya mengatakan “kegiatan ini tidak adil, masa Partai Demokrat yang punya hajat, kok PKS yang dominan menjadi saksi. Sedangkan menurut kader Demokrat lainya yang berasal dari Kelurahan Pasangrahan yang juga tak mau nyebut identitasnya mengatakan “saya heran, saksi di wilayah pasangrahan seratus persen dikelola dari kader PKS, tidak ada seorang pun dari Partai Demokrat.

Menyikapi hal itu Korsum mendatangi Ketua Panitia, Iman yang diwakili oleh Arif Respati dari Kordapil 1V mengatakan ditempat pelatihan (Islamic Centre), bahwa sebenarnya tidak ada permasalahan, ini terjadi akibat kurang komunikasi, tapi jangan khwatir, kegiatan ini belum selesai sampai tuntas, kegiatan ini sudah direncanakan dari awal, akan sekaligus dengan falidasi data, kami berkeyakinan, jelas Arif, bahwa untuk saksi akan dikembalikan berdasarkan hasil musyawarah antara kedua partai itu.

Masih menurut Arif, kami sangat membantah kalau saksi itu didominasi dari Kader PKS, hal ini terjadi karena kesalah pahaman saja, yang jelas untuk masalah saksi akan kami berikan kepada keduai partai kalaupun dalam SK nya ditujukan untuk Kader PKS, kami akan mengikuti dan menghargai hasil musyawarah yang digelar di tempat ini.

Sedangkan menurut kader PKS lainya, dengan merahasiakan identitasnya ditempat yang sama, mengatakan “saya sendiri sebagai kader PKS merasa malu, ko kenapa pengelolaan saksi dilimpahkan penuh ke Partai PKS, tapi kami yakin setelah usai acara ini akan mendapatkan hasil yang mufakat dari Partai Demokrat dan PKS. **[Imadudin]

Bupati Don Diduga Giring Para Kades Ke Mega-pro

Subang, Korsum

Lagi-lagi, para Kades se-Kabupaten Sumedang gelar acara di luar kota, yakni di Kabupaten Subang. Ironisnya, kegiatan tersebut tidak melalui prosedur administrasi yang jelas, dan dilaksanakan setiap menghadapi Pemilihan Umum. Dulu, sebagaimana pemberitaan Korsum pada edisi yang lalu, ketika menghadapi Pemilihan Kepala Daerah, para Kades beserta birokrasi lainnya juga terbukti mengadakan kegiatan di luar kota. Di dalam acara tersebut, menurut keterangan beberapa Kades, diisi dengan arahan untuk memilih pasangan DON-TOP.

Kini hal tersebut terulang, berdasarkan pantauan Korsum, hari Sabtu tanggal 27 Juni, Bupati Don beserta para Kades kepergok melaksanakan kegiatan di Kabupaten Subang, tepatnya di rumah makan Abah. Memang dalam acara itu tidak ada kata-kata himbauan untuk memilih Mega-Pro, namun pada akhir acara para Kades dibagi Kaos pasangan Mega-Pro dan dibagi uang senilai 100 ribu per-Kadesnya. Kalau dihitung secara matematika, 100 ribu dikali jumlah Kades Se-Kabupaten Sumedang, kurang lebih 29 juta. Ditambah biaya sewa tempat sebesar 15 juta. Dengan fenomena ini, diduga Bupati Don menggiring para Kades untuk mendukung Mega-Pro dengan cara menggunakan teknik Money Politic.

Di tengah semaraknya acara itu, Korsum sempat berbincang-bincang dengan beberapa Kades tentang kehadiranya dalam acara itu. Ternyata menurut pengakuan mereka, acara ini tidak ada undangan resmi, tapi hanya melalui telepon seluler, yakni melalui SMS-an dan telpon langsung, pemberitahuannya pun serentak. Ada yang mengaku di-SMS sabtu pagi, dan ada juga satu hari sebelumnya. Ketika ditanya ini adalah acara apa, mereka pun menjawab tidak tahu.

Menurut Ketua Apdesi Kabupaten Sumedang, Warson, ketika dikonfirmasi Korsum, acara ini hanya studi banding, silaturahmi, dan syukuran bagi para Kades yang terpilih menjadi anggota Dewan. “Kalau masalah tempat, kenapa kami pilih Subang, karena Sumedang itu satu hamparan dengan Subang. Dan Sumedang larang itu luas, termasuk Subang juga,” jelas Warson.

Ketua LSM Sabda Nusantara, Iwan Kusumah dimintai tanggapannya mengatakan, jika terjadi hal tersebut, itu merupakan pelanggaran. Karena, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005, pasal 16 huruf d, Kepala Desa dilarang terlibat dalam kampanye Pemilihan Umum, Pilpres, dan Pemilihan Kepala Daerah.

Hal senada dikatakan Adah, Koordinator Komite Rakyat Pemberantas Korupsi Sumedang (KRPK), ditemui di sekretariatnya , mengatakan, “Saya sebagai Koordinator KRPK sangat tidak setuju, kok Bupati melakukan kegiatan di luar kota yang melibatkan seluruh Kades. Apakah di Sumedang tidak ada tempat? Dan kenapa pesertanya hanya para Kades? Dan yang membuat lebih aneh, kenapa acara ini dilaksanakan setiap menghadapi Pemilu? Kami masih ingat waktu PILKADA, pada waktu itu para Kades dibawa ke luar kota, yakni Subang, Bandung, Garut, dan Kadipaten.”

Masih menurut Adah, kegiatan itu ada indikasi penggiringan, dan kalau dibagi uang berarti ada muatan money politic. “Kalaupun acara itu tidak bermuatan politik, kenapa tidak dilaksanakan di Sumedang saja? Masyarakat Sumedang biar tahu (transparan), dan sedikitnya para pengusaha seperti rumah makan di Sumedang ikut menikmati. 15 juta kan bukan uang sedikit. Coba kalau uang itu diberikan ke Islamic Centre, Joglo, atau rumah makan Sugihmukti,” ujar Adah tandas. **[Imadudin]

Sosialisasi Pilpres Dimeriahkan Longser Puseur Budaya Pasundan

Rancakalong, Korsum

Menjelang Pilpres 8 Juli mendatang, wilayah Dapil 2 mengadakan sosialisasi yang bertempat di Dusun Citungku, Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong. Acara tersebut dimeriahkan oleh pagelaran pentas seni Longser Puseur Budaya Pasundan. Kegiatan tersebut merupakan hasil rapat koordinasi Wakil Bupati, Taufik Gunawansyah, dengan para camat.

Yang menjadi pentas utama dalam pagelaran tersebut adalah tampilnya seni Tarawangsa yang merupakan seni tradisional Rancakalong. Pagelaran tersebut bekerja sama dengan Yayasan Vidia Iswari dari Jawa Barat. Kegiatan pentas ini bertempat di lapangan depan kantor UPTD Pendidikan Rancakalong.

Dalam kesempatan itu, terlihat masyarakat sangat haus akan hiburan, terbukti dengan kehadiran masyarakat dengan penuh antusias menyaksikan pagelaran tersebut. Walaupun dari pagi hingga sore diguyur hujan, tapi masyarakat tetap memadati lapangan, ingin menyaksikan pentas sampai tuntas. Selain masyarakat, juga disaksikan oleh para peserta Bhakti Pemuda Antar Provinsi (BPAP) yang sedang mengadakan kegiatan di Kecamatan Rancakalong.

Dalam sambutannya, Camat Rancakalong menyampaikan rasa bangganya kepada warga Rancakalong yang sudah gigih mempertahankan seni tradisionalnya, yang sampai saat ini kuat dipertahankan. “Tarawangsa tak bisa dipisahklan dengan warga Rancakalong. Bila kita ingat Rancakalong, pasti teringat tarawangsanya. Mungkin seperti itu lah keadaannya,” ujarnya.

“Sosialisasi pilpres ini sengaja kami sampaikan melalui pagelaran Longser agar masyarakat lebih mudah mengerti, karena cara penyampaiannya tidak membuat masyarakat jenuh tapi sebaliknya masyarakat sangat senang dan mudah memahami maksud dan tujuan pelaksanaan pilpres tersebut,” tambahnya. **[Suharna]

Panwaslu Kabupaten Temukan Beberapa Pelanggaran Pemilu

Kota, Korsum

Ketua Panwaslu Kabupaten Sumedang Sri Mira Iriani ketika ditemui Korsum di ruang kerjanya Senin (7/4) mengatakan, beberapa pelanggaran selama masa kampanye diantaranya pada putaran pertama parpol tidak memenuhi peraturan KPU No.19 tahun 2008 pasal 22 yang hanya beberapa parpol yang memberikan tembusan tentang metode kampanye, jadwal dari KPU untuk rapat umum hampir seluruhnya digunakan uantuk sosialisasi dengan bentuk lain misalnya pengobatan gratis atau kegiatan olah raga, adanya keterlibatan anak-anak dalam berkampanye, ada salah seorang caleg yang diperkenalkan panitia sambil menuntun anak kecil.

Pada putaran kedua masalah ijin, dari 26 anggota DPD hanya dua orang saja yang menembuskan ke panwas. Pelanggaran yang paling besar adalah berkampanye lintas dapil, ada yang kampanye ke Bandung yaitu partai Hanura, Golkar dan Demokrat padahal Bandung bukan Jabar Sembilan. Jabar sembilan adalah Sumedang Majalengka dan Subang (SMS) ini melanggar peraturan KPU pasal 23.

Kampanye Rapat Umum hanya dilakukan oleh partai-partai besar bahkan yang paling lucu Partai Bulan Bintang yang sudah disediakan panggung tetapi caleg tidak berorasi atau memperkenalkan diri untuk menarik simpati. Yang paling disayangkan menurutnya banyak caleg yang tidak membekali diri dengan undang-undang kepemiluan.

Sedangkan dugaan pelanggaran politik uang selama masa tenang sampai hari H, Panwaslu menemukan empat kasus antara lain pembagian amplop dan kartu nama saat hari H. Tiga kasus masih dikaji lebih dalam dan satu kasus sudah cukup kuat atas dugaan tersebut. Namun ketua Panwaslu belum menyebutkan siapa dan dari partai mana yang diduga melakukan pelanggaran tersebut sebelum bener-benar terbukti, katanya.***[Asep Nandang]

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv