Kota. Korsum
Penerimaan siswa baru (PSB) di kabupaten sumedang semakin membelit leher orang tua siswa, Beberapa orang tua siswa yang ditemui Korsum, mengeluh dengan biaya masuk ke sekolah setingkat SMA, betapa tidak jutaan rupiah harus ia rogoh dari kantongnya.
Untuk masuk ke sekolah favorit wajib orang kaya. Seperti yang diungkapkan salah seorang calon orang tua siswa dari rancakalong yang ingin masuk ke SMAN 1 Sumedang, konon katanya untuk masuk jalur khusus orang tua siswa ada yang harus menyetor 10 juta, tidak hanya itu setiap bulan harus setor dana sebesar 500 ribu sebagai iuran bulanan,
Bahkan lucunya di SMAN 1, di sesi wawancara guru dengan ortu siswa yang ditanyakan kemampuan ekonomi ortu bukan kemampuan intelektual muridnya. Besaran NEM dan raport tidak menjadi pokok pertanyaan.
Disatu sisi, kelulusan di Sekolah setingkat SMP belum dibuka, namun SMAN 1 sudah membuka pendaftaran. Bahkan ada siswa SMP 3 yang belum mendapatkan kelulusan dari SMP sudah dinyatakan lulus masuk ke SMAN 1 secara resmi.
Yang kurang mendapatkan informasi tentang mahalnya biaya pendidikan di SMAN 1, banyak siswa SMP yang kembali mengundurkan diri.
Hampir sama dengan di SMAN 1, sekolah yang juga menerapkan sekolah bertarap Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI), SMKN 2 Sumedang juga membebani calon siswanya dengan biaya yang tidak sedikit. Seperti yang diungkapkan Wakasek Bidang System Informasi manajemen, sekaligus ketua panitia, Kurnia. Menurutnya saat ini sudah tercatat pendaftar siswa SMP sebanyak lebih kurang 300 orang hasil dari 9 kelas yang ada (rata-rata per kelas memuat 34 siswa). Namun SMKN 2 membantah tidak ada uang selain DSP (Dana Sumbangan Pembangunan, red). SMKN 2 hanya membebani DSP sebesar 2 juta rupiah, tidak ada dana siluman, Sedangkan dana iuran bulanan sebesar 100 ribu.
Sekolah berstatus RSBI membawa konsekuensi, disatu sisi ada intruksi untuk meningkatkan mutu pendidikan, namun disisi lain berkonsekuensi tingginya terhadap biaya pendidikan, karena system RSBI prosesnya berbeda dengan sekolah biasa.
Lucunya tahun ajaran sekarang, sekolah swasta lebih murah dari sekolah negeri, sekurangnya ada 3 orang sekolah swasta menerapkan tarif lebih murah, terendah adalah SMK Maarif yang hanya menerapkan biaya pendaftaran 150 ribu, dan 800 ribu untuk biaya perawatan sekolah, sudah termasuk atribut. Yang masuk katagori mahal diterapkan oleh SMK Pemuda, biaya DSP-nya sebesar 1 hingga 5 juta.
Anggota DPRD dari Komisi C yang membidangi pendidikan, Dra. Odah, dihubungi via SMS, jumat (19/6) mengatakan,”Pendidikan adalah hak semua warga, harus ada political will, ada kebijakan untuk membebaskan biaya pendidikan hingga SMA, sehingga tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan”. Ketika ditanya fenomena jalur khusus, Odah menanggapi, “kalo ada yang seperti itu , saya merasa prihatin, tentunya hal tersebut bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yang seharusnya dapat mencetak anak didik yang berkualitas, berakhlakul karimah, kalau begitu kejadiannya apa kata dunia?” tegasnya. [Tim]

















Jakarta Time