<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>
kartun

Prihatin, Kriminalisasi Hasil Karya Jurnalis

Pasal 310 dalam KUHP tentang pencemaran nama baik memang “efektif” untuk dipergunakan semau dan ditafsirkan apa saja.  Penyerangan nama baik diterjemahkan secara bebas tanpa ada batasan pasti, itu yang terjadi pada crew Baca Selangkapnya »

Pasific

Pasific Hariring (Paha), Tempat Karaoke Baru Bertarif Ratusan Ribu Perjam

Kota, Korsum Diawali dengan berbagai acara lomba, festival dan pasinggiri kesenian sunda yang diadakan di gedung Pasific lantai dasar, mulai 15 – 22 April 2012 lalu, hal itu akan menjadi momentum pembukaan Baca Selangkapnya »

sd

Didepan Mata SD TEGALKALONG II DIBIARKAN RUSAK

Kota, Korsum Rasanya aneh, SD Tegalkalong II Kecamatan Sumedang Utara, hingga kini masih tetap dibiarkan rusak, padahal SD tersebut terletak depan mata bersebelahan dengan kantor Dinas Pendidikan Sumedang yang tentunya dapat terlihat Baca Selangkapnya »

Raskes

Raskes Terkena Tumor Ganas Berat di Ongkos Untuk Berobat

Tanjungkerta, Korsum Raskes (7), anak kedua dari Jubaedah (35) yang sudah lama menjanda ini, terpaksa harus menanggung derita akibat penyakit yang dideritanya berupa penyakit tumor ganas di dada sebelah kirinya yang tak Baca Selangkapnya »

Category Archives: PENDIDIKAN

Tarif Sekolah di Sumedang “MAHAL”

Kota. Korsum

Penerimaan siswa baru (PSB) di kabupaten sumedang semakin membelit leher orang tua siswa, Beberapa orang tua siswa yang ditemui Korsum, mengeluh dengan biaya masuk ke sekolah setingkat SMA, betapa tidak jutaan rupiah harus ia rogoh dari kantongnya.

Untuk masuk ke sekolah favorit wajib orang kaya. Seperti yang diungkapkan salah seorang calon orang tua siswa dari rancakalong yang ingin masuk ke SMAN 1 Sumedang, konon katanya untuk masuk jalur khusus orang tua siswa ada yang harus menyetor 10 juta, tidak hanya itu setiap bulan harus setor dana sebesar 500 ribu sebagai iuran bulanan,

Bahkan lucunya di SMAN 1, di sesi wawancara guru dengan ortu siswa yang ditanyakan kemampuan ekonomi ortu bukan kemampuan intelektual muridnya. Besaran NEM dan raport tidak menjadi pokok pertanyaan.

Disatu sisi, kelulusan di Sekolah setingkat SMP belum dibuka, namun SMAN 1 sudah membuka pendaftaran. Bahkan ada siswa SMP 3 yang belum mendapatkan kelulusan dari SMP sudah dinyatakan lulus masuk ke SMAN 1 secara resmi.

Yang kurang mendapatkan informasi tentang mahalnya biaya pendidikan di SMAN 1, banyak siswa SMP yang kembali mengundurkan diri.

Hampir sama dengan di SMAN 1, sekolah yang juga menerapkan sekolah bertarap Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI), SMKN 2 Sumedang juga membebani calon siswanya dengan biaya yang tidak sedikit. Seperti yang diungkapkan Wakasek Bidang System Informasi manajemen, sekaligus ketua panitia, Kurnia. Menurutnya saat ini sudah tercatat pendaftar siswa SMP sebanyak lebih kurang 300 orang hasil dari 9 kelas yang ada (rata-rata per kelas memuat 34 siswa). Namun SMKN 2 membantah tidak ada uang selain DSP (Dana Sumbangan Pembangunan, red). SMKN 2 hanya membebani DSP sebesar 2 juta rupiah, tidak ada dana siluman, Sedangkan dana iuran bulanan sebesar 100 ribu.

Sekolah berstatus RSBI membawa konsekuensi, disatu sisi ada intruksi untuk meningkatkan mutu pendidikan, namun disisi lain berkonsekuensi tingginya terhadap biaya pendidikan, karena system RSBI prosesnya berbeda dengan sekolah biasa.

Lucunya tahun ajaran sekarang, sekolah swasta lebih murah dari sekolah negeri, sekurangnya ada 3 orang sekolah swasta menerapkan tarif lebih murah, terendah adalah SMK Maarif yang hanya menerapkan biaya pendaftaran 150 ribu, dan 800 ribu untuk biaya perawatan sekolah, sudah termasuk atribut. Yang masuk katagori mahal diterapkan oleh SMK Pemuda, biaya DSP-nya sebesar 1 hingga 5 juta.

Anggota DPRD dari Komisi C yang membidangi pendidikan, Dra. Odah, dihubungi via SMS, jumat (19/6) mengatakan,”Pendidikan adalah hak semua warga, harus ada political will, ada kebijakan untuk membebaskan biaya pendidikan hingga SMA, sehingga tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan”. Ketika ditanya fenomena jalur khusus, Odah menanggapi, “kalo ada yang seperti itu , saya merasa prihatin, tentunya hal tersebut bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yang seharusnya dapat mencetak anak didik yang berkualitas, berakhlakul karimah, kalau begitu kejadiannya apa kata dunia?” tegasnya. [Tim]

STBA Sebelas April, Promosikan Budaya Sumedang Ke Mancanegara

Kota, Korsum

Ditengah gencarnya Pemkab Sumedang mempromosikan Sumedang Puseur Budaya Pasundan baru-baru ini, ternyata Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Sebelas April Sumedang sudah lebih dulu melakukan promosi budaya Sumedang tersebut, sebagai contoh tahun yang lalu dalam pelaksanaan KKN yang bertempat di kecamatan Rancakalong beriringan dengan adanya pelaksanaan budaya ngalaksa, STBA mengundang 15 negara asing dan hadir dalam acara tersebut. Demikian dikatakan Dra. Eneng Sulyati,M.Pd Ketua STBA Sebelas April Sumedang Selasa (16/6) di ruang kerjanya.

Menurutnya, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memberikan informasi ke dunia luar (Mancanegara) mengenai keberadaan potensi budaya Sumedang, karena dengan kemampuan anak-anak STBA dalam bahasa asing lebih mudah dalam komunikasi dan mempromosikan dengan harapan Sumedang menjadi tujuan wisata,”Rencananya akhir juni sekarang STBA akan mengadakan KKN di Jogja dan Bandung, diharapkan sebelumnya diberikan pembekalan, khususnya dari Disparbud Sumedang atau intansi terkait mengenai budaya Sumedang agar para mahasiswa dapat mempromosikannya baik di tempat KKN maupun kepada Turis Asing”harapnya.

Sejak berdirinya STBA sudah mengeluarkan 13 angkatan, yang sudah tersebar baik menjadi PNS, reporter, bekerja di hotel, menjadi Guide, melanjutkan kuliah diperguruan tinggi negeri maupun swasta juga ada yang bekerja di luar negeri.**[Dodoy Dokkil]

Upi Kampus Sumedang Asing Di Kota Sendiri

logo-upi1

Kota, Korsum

Walaupun Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang sudah berjalan sejak tahun 1996, namun keberadaannya belum banyak dikenal masyarakat Sumedang. Contohnya Udin (35), salah seorang warga Sumedang, yang mengatakan bahwa dia masih asing dengan UPI Sumedang. Bahkan, kebanyakan dari masyarakat Sumedang hanya mengetahui UPI (dulu namanya IKIP) ada di Bandung.

Dadan, Ketua Program UPI Kampus Sumedang, Senin (18/5), di ruang kerjanya, mengatakan bahwa pada awalnya Program UPI Kampus Sumedang hanya Program DII PGSD dan lanjutan, tetapi sekarang sudah dibuka S1 PGSD Kelas dan Penjas. “Dengan keterbatasan ruangan yang ada, mahasiswa reguler baru mencapai 350 orang, paling tinggi duduk di semester 6. Sedangkan jumlah keseluruhan mencapai 1600 mahasiswa, kebanyakan lanjutan. Walaupun sampai sekarang pelaksanaan Wisuda masih di Bandung, tetapi penerimaan sudah dilaksanakan di Sumedang,” ujarnya.

Ditambahkan Komarudin Syah, staf Bagian Aset dan Fasilitas Telekomunikasi, Informasi, dan Komunikasi UPI Sumedang, bahwa Di Jawa Barat keberadaan Kampus Daerah ada di lima wilayah, yakni Kampus Cibiru, Tasikmalaya, Purwakarta, Serang, dan Sumedang. “Kampus Sumedang sendiri diperuntukkan bagi beberapa kabupaten, seperti Sumedang, Majalengka, Cirebon, dan Kuningan. Walaupun tergantung jurusan yang diambil, UPI Kampus Sumedang hanya ada dua program, yakni PGSD Kelas dan Penjas, selain itu telah dibuka Pascasarjana Konsentrasi Administrasi Pendidikan,” katanya.

Menurutnya, rencananya tahun 2010 Kampus Sumedang akan ada penambahan ruang dan dibangun 2 lantai. Saat ini sedang diusulkan penambahan program, diantaranya Program PAUD. “Saat ini ada penerimaan mahasiswa Baru melalui Ujian Masuk Universitas Indonesia (UMUPI). Yang mengambil formulir mencapai 987 orang dan akan diseleksi mulai tanggal 4 juni mendatang melalui test tertulis, test ,kesehatan maupun Psikotes,” tambahnya.

“Dalam Pelaksanaan Seleksi, karena ruangan yang dibutuhkan sekitar 34 ruangan, sedangkan UPI hanya memiliki 12 ruangan, maka kurangnya ada di tempat lain, yaitu 12 ruangan di SMKN 2, dan 10 ruangan di SMPN 5. Selain itu, dalam rangka menambah syiar, UPI Kampus Sumedang sudah melakukan langkah seperti dengan adanya HUT UMUPI ruang, Seminar Penjas, kerjasama dengan Dinas Pendidikan melalui Sertifikasi dan lain-lain,” pungkasnya. **[Dodoy Dokkil]

Orang Tua Siswa SMA Tomo Mengeluh 2 Bulan SPP Harus Dibayar Di Muka

Tomo, Korsum

Sejak dulu, dalam dunia pendidikan, urusan biaya adalah permasalahan yang sangat pelik untuk disikapi. Walaupun pemerintah selalu mengembor-gemborkan terus program wajib belajar, tapi tetap saja para orang tua harus berpikir dua kali apabila ingin meneruskan anak-anaknya untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Jangankan ke tingkat perguruan tinggi, di tingkat SMA saja sepertinya orang tua siswa sudah ngos-ngosan untuk membiayainya, terutama bagi para orang tua yang tinggal di daerah, yang hidupnya pas-pasan. Apalagi menghadapi biaya-biaya lain yang sifatnya di luar sekolah tapi menunjang terhadap kualitas pendidikan anak.

Beratnya biaya pendidikan ini dirasakan hampir oleh seluruh orang tua yang menyekolahkan anaknya, baik tingkat dasar maupun menengah. Seperti yang dirasakan orang tua siswa SMA Tomo, yang sekarang ini sedang banyak mengeluh terutama karena adanya surat pemberitahuan dari sekolah untuk membayar SPP sekaligus 2 bulan bayar di muka sampai bulan mei. Hal itu dikatakan beberapa orang tua siswa yang anaknya sekolah di SMA Tomo. “Keputusan pihak sekolah itu sangat memberatkan kami selaku orang tua siswa. Dalam situasi ekonomi yang serba sulit ini harus membayar biaya sekolah sekaligus dua bulan, sedangkan kami jangan kan dua bulan, satu bulanpun sudah hampir kewalahan,” ujar salah satu dari mereka.

“Yang menjadi heran lagi, kenapa surat pemberitahuan ini tidak melalui hasil musyawarah dulu? Dan lagi, yang memberatkan kami, dalam isi surat tersebut dikatakan pembayaran secara bayar dimuka tersebut uangnya akan digunakan untuk membiayai kebutuhan kelas tiga menjelang ujian akhir. Kenapa yang akan menghadapi ujian kelas tiga tapi membebankan biaya ke kelas satu dan dua?” tanyanya heran.

Ketika Korsum menemui pihak sekolah untuk konfirmasi, Jum’at (17/4), kebetulan kepala sekolanya tidak ada di tempat, dan ketika mencoba konfirmasi ke wakaseknya, ia mengatakan tidak mempunyai wewenang dan mengarahkan agar menemui ketua komite saja.

Saat ditemui, Ketua Komite Sekolah, H. Ilis Sutisna, mengatakan bahwa mengenai surat pemberitahuan itu, sebenarnya pihak komite sudah mengadakan kesepakatan dalam musyawarah jauh sebelumnya, yaitu sekitar satu bulan ke belakang. “Jadi, orang tua diharapkan datang ke sekolah untuk menyelesaikan masalah bila ada keterlambatan urusan keuangan. Masalah keberatan ini muncul barangkali yang namanya orangtua, saking kesalnya tidak ada uang, jadi bicara sampai ke sana,” jelasnya.

“Sebenarnya tidak membebankan ke kelas satu dan dua, tapi kan ini akhir tahun, sudah biasa dibayar dua bulan sekaligus dan ini sudah berlangsung sejak dulu, sejak mulai sekolah ini berdiri. Dan, mungkin ini hasil keputusan kepala sekolah, dan komite mengetahuinya. Selain itu, maksudnya, kalau mungkin kan kelas tiga mau ujian, tentu banyak permasalahan yang harus dihadapi, jadi pihak sekolah tidak bisa bicara masalah tunggakan, jadi kalau mungkin ini sekedar “nalangan “ saja,” tegasnya. **[Galuh/Baron]

O2SN Ajang Bergengsi Mencari Duta Untuk Provinsi

Kota, Education

Ajang bergengsi dibidang olahraga untuk pengembangan bakat dan minat siswa dibidang olahraga dalam Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) digelar selama tiga hari (14-16/4), dan melombakan 13 cabang olahraga yang diperlombakan. Cabang olahraga yang dipertandingkan dan diperlombakan tersebut diantaranya Atletik, Bulutangkis, Tenis Meja, Pencak Silat, Bola Voli Mini, Senam Ritmik, Catur, Sepakbola mini, Tenis lapangan, Bridge, Takraw, Renang dan Karate.

Timbul Dijantono Ketua panitia pelaksana kegiatan yang juga Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang dalam pembukaannya mengatakan tujuan digelarnya acara tersebut bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam bidang olahraga, membina dan mempersiapkan olahragawan prestasi pada tingkat nasional maupun internasional sejak usia sekolah, juga untuk mengembangkan jiwa sportifitas, kompetitif, rasa percaya diri, dan rasa tanggung jawab. “Selain itu O2SN ini bertujuan untuk mempersiapkan materi atlit pilihan sebagai kontingen Kabupaten Sumedang dalam rangka menghadapi O2SN SD-SMP tingkat Provinsi Jawa Barat pada bulan Mei 2009 mendatang”, Ujar Timbul.

Sedangkan dalam penutupan yang bertempat di SD Panyingkiran Kamis (16/4) Timbul mengatakan kegiatan O2SN berjalan lancar dan aman, serta para atlit maupun official dan seluruh panitia dalam keadaan sehat. Hasil akhir dari pertandingan O2SN SD Tingkat Kabupaten Sumedang yang berhasil menjadi juara umum dan mengumpulkan emas terbanyak diraih oleh Kecamatan Sumedang Utara dengan jumlah emas 13 perak 16 dan perunggu 6 buah.**[macko]

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv