Sumsel, Korsum
Para pembalak hutan Konservasi di sekitar wilayah Sumedang Selatan, tepatnya di wilayah hutan Citengah-Cipancar kini terlihat semakin brutal, beberapa hutan sekitar itu antara lain hutan Cikalapa, hutan Citimang, Cilimus, hutan Tangtu, dan hutan Sompok, dari kelima hutan tersebut adalah hutan Konservasi, yang seharusnya dilindungi dan tidak boleh ditebang kecuali dikhawatirkan tumbang ke pemukiman, berdasarkan informasi dari warga setempat, kini hutan tersebut sudah dijadikan objek mata pencaharian warga sekitarnya.
Fenomena tersebut dibenarkan oleh salah seorang Kepala Desa Citengah, Eman Sulaeman, ketika dikonfirmasi Korsum, (19/6) dikediamannya mengatakan bahwa pembalakan hutan di kelima tempat itu sudah lama terjadi,”kami pernah berupaya untuk melarangnya, dan sebenarnya dulu sekitar tahun 2006 pelaku pembalak disekitar hutan lindung itu pernah tertangkap dan dipenjarakan, namun sekarang kami juga merasa aneh, kok kenapa bisa terjadi lagi, kami sebagai aparat desa berharap, untuk melindungi hutan konservasi, meminta agar pihak-pihak terkait seperti dari BKSDA dan FMK sebagai pembina hutan untuk lebih insentif memantau keberadaan hutan itu, minimal satu bulan sekali untuk datang kehutan itu, kami khawatir kalau dibiarkan terus, debit air bersih untuk ke pemukiman Desa Citengah menurun”,ujarnya.
Menanggapi hal tersebut Aziz Ketua Forum Masigit Karembi (FMK) diredaksi Korsum Jum’at (19/6) mengatakan dengan tegas bahwa dirinya sebagai pemerhati hutan lindung marah dan akan segera bertindak, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait.
Masih menurutnya, “saya sangat kesal dengan para pembalak itu, isu itu sudah lama di dengar, kami menginginkan pemantauan hutan konservasi itu lebih insentif, namun berhubung petugas kami terbatas, sehingga pemantauan hutan itu kurang optimal, tapi walaupun kekurangan anggota, kami akan sesegera mungkin dalam waktu dekat mendatangi lokasi itu, kalaupun terbukti, kami akan bertidak secara tegas, bila perlu dipenjarakan lagi”, ancamnya.**(Imadudin)
















Jakarta Time