Cibugel, Korsum
Hajat Uar atau “numbal lembur” merupakan salah satu budaya tradisi Desa Cilimus, Kecamatan Cibugel, yang sudah hampir punah, selain budaya-budaya tradisi yang lainnya. Untuk melestarikan budaya tersebut, di Kecamatan Cibugel, Rabu (1/7), tepatnya di lapangan Nagrak, dilakukan deklarasi untuk melaksanakan Hajat Uar ini sebagai agenda rutin tahunan.
Meskipun acara tersebut telat hingga empat jam dari yang dijadwalkan, karena menunggu Bupati Don beserta rombongan yang terlebih dahulu menghadiri acara Hari Bhayangkara di alun-alun Sumedang, warga yang menunggu sejak pukul 08 pagi tetap semangat dan antusias. Pada pukul 12 lewat rombongan Bupati Don pun tiba, maka acara pun dimulai.
Hajat uar sendiri merupakan upacara selamatan menyambut datangnya musim tanam yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali setiap pergantian musim. Pengaruh cuaca yang berubah ini sering menimbulkan berbagai macam penyakit, maka dengan melakukan hajat uar atau numbal lembur diharapkan berbagai macam penyakit ini tidak melanda desa. Jadi, Hajat Uar merupakan satu bentuk antisipasi yang disimbulkan dengan berbagai sesajen.
Beberapa macam sesajen sebagai simbul pada upacara Hajat Uar, antara lain panggang ikan mas sebagai simbul untuk menjaga keemasannya yang diwariskan oleh leluhur, panggang lele untuk membedakan mana yang halal dan yang haram, “jukut palias” untuk membuang penyakit yang ada pada diri kita, dan ayam tulak sebagai simbul jangan gelap hati.
Camat Cibugel, Widodo, ketika dihubungi Korsum mengatakan bahwa Hajar Uar merupakan budaya tradisi yang sudah lama dan sudah hampir punah. Untuk itu, dengan digelarnya kembali Hajat Uar ini, diharapkan tradisi ini lestari. “Dan, ini akan menjadi agenda tahunan Kecamatan Cibugel,” tuturnya.
Kabid Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga, Cucu Sutaryadibrata, mengatakan bahwa Hajat Uar sama dengan Hajat Lembur yang biasa dilaksanakan setiap habis panen, baik pada panen padi maupun panen palawija. “Dan, bukan saja di Kecamatan Cibugel, tetapi di setiap daerah pun ada, hanya maknanya saja yang berbeda,” tuturnya. **[Asep Nandang]