Kota, Korsum
Pengaruh jalur alternatif yang tengah dilakukan perbaikan sejak bulan April, Terminal Bus Ciakar nyaris sepi. Namun beberapa sumber mengatakan, memang kondisi Terminal sebelum-nya pun sudah seperti itu, dituturkan oleh sang awak Bus. Terminal Ciakar Sumedang jika dibandingkan dengan terminal di kota lain terkesan kumuh, kurang terpelihara, sehingga baginya gerah dan kurang nyaman saat singgah ditempat itu.
Tidak hanya sekedar pendapat awak Bus, Lina, seorang calon penumpang yang tengah menanti Bus Rute Jakarta Via Tol, mengaku risih selama menunggu Bus yang akan membawanya, dikatyakannya, “Saya kurang berkesan lama berada di terminal ini, kang ! Perhatikan saja, bagi saya terminal ini gersang, penuh polusi apalagi ketika saya berniat ke kamar kecil, selain bangunannya tidak tertata kondisi di ruang tersebut menjijikan. Padahal ini kan sarana umum yang disediakan pemerintah bagi kepentingan masyarakat. Semestinya terpelihara.” Ujarnya.
Dengan melihat kenyataan ini sudah sewajarnya pihak pemerintah memperhatikan kebutuhan masyarakat tersebut, padahal dalam anggaran 2009 untuk Dishub kominfo pemerintah menggarakan sekitar 1,8 M, tapi untuk penataan terminal luput dari anggaran padahal terminal identik dengan wajah kota juga merupakan sarana umum sekaligus persinggahan para penumpang yang datang dari dalam maupun luar kota Sumedang yang otomatis jadi penilaian secara tidak langsung baik buruknya wajah Sumedang.
Diakui oleh seorang petugas yang saat itu kebetulan bertemu Korsum mengatakan,” inilah bukti otentik terminal Sumedang, kami sebagai petugas bukan tidak memahami keluhan mereka, tetapi hal itu ada yang lebih berwenang secara pribadi saya pun mengharapkan ada renovasi atau penataan, namun tentunya hal tersebut relevansi dengan dana,” ungkapnya. **[Endang Baron|Adith]

















Jakarta Time