<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>
kartun

Prihatin, Kriminalisasi Hasil Karya Jurnalis

Pasal 310 dalam KUHP tentang pencemaran nama baik memang “efektif” untuk dipergunakan semau dan ditafsirkan apa saja.  Penyerangan nama baik diterjemahkan secara bebas tanpa ada batasan pasti, itu yang terjadi pada crew Baca Selangkapnya »

Pasific

Pasific Hariring (Paha), Tempat Karaoke Baru Bertarif Ratusan Ribu Perjam

Kota, Korsum Diawali dengan berbagai acara lomba, festival dan pasinggiri kesenian sunda yang diadakan di gedung Pasific lantai dasar, mulai 15 – 22 April 2012 lalu, hal itu akan menjadi momentum pembukaan Baca Selangkapnya »

sd

Didepan Mata SD TEGALKALONG II DIBIARKAN RUSAK

Kota, Korsum Rasanya aneh, SD Tegalkalong II Kecamatan Sumedang Utara, hingga kini masih tetap dibiarkan rusak, padahal SD tersebut terletak depan mata bersebelahan dengan kantor Dinas Pendidikan Sumedang yang tentunya dapat terlihat Baca Selangkapnya »

Raskes

Raskes Terkena Tumor Ganas Berat di Ongkos Untuk Berobat

Tanjungkerta, Korsum Raskes (7), anak kedua dari Jubaedah (35) yang sudah lama menjanda ini, terpaksa harus menanggung derita akibat penyakit yang dideritanya berupa penyakit tumor ganas di dada sebelah kirinya yang tak Baca Selangkapnya »

Category Archives: LINTAS DESA

Warga Karedok Minta Perhatian Pemerintah Ian W.S., “Khawatir Tragedi Situgintung Menimpa Kami”

Jatigede, Korsum

Pembangunan Mega Proyek Dam Jatigede sedang berlangsung. Berbagai fasilitas sarana pendukung, baik itu perumahan pekerja, kantor, dan jalan sebagai sarana penunjang transportasi marak dibuat. Tapi, masyarakat Desa Karedok, Kecamatan Jatigede, Sumedang, saat ini sedang sangat khawatir akan dampak dari Pembangunan Dam Jatigede tersebut. Mereka khawatir dampak pembangunan Dam ini akan berimbas buruk terhadap keberadaan tanahnya.

Demikian kekwatiran yang diungkapkan oleh salah seorang masyarakat Desa Karedok, yang sekaligus sebagai Ketua Adat Desa, saat dihubungi Korsum di kediamannya. “Saya, atas nama masyarakat Desa Karedok, sangat mengkhawatirkan sekali akan dampak pembangunan Dam Jatigede. Karena, seperti yang kita tahu bersama, lokasi kampung kami berada persis di bawah bendungan tersebut. Sehingga, kami takut terjadi hal yang tidak diharapkan, seperti kejadian yang menimpa masyarakat Situgintung,” ujarnya.

Selanjutnya, diungkapkan pula mengenai kekhawatirannya lain yang terjadi saat ini. “Saat ini pun sudah banyak hal yang terjadi di luar perhitungan kita sebagai manusia, seperti kejadian tanah tanah longsor dan terkuburnya bendungan yang menyuplai air kepada PLTA Parakan Kondang,” ungkapnya.

“Walaupun yang mengerjakan proyek tersebut mempunyai tekhnologi tinggi dan mempunyai sertifikat ISO, tapi tetap saja bahwa pembangunan Proyek tersebut berhubungan dengan Alam. Apalagi sekarang ini pepohonan sudah ditebang habis. Dalam hal ini juga kami mengharapkan perhatian dari Pemkab Sumedang, maupun Pemerintah Pusat dan Institusi yang terkait dalam proyek ini, agar menyiapkan cara untuk mengantisipasi kekhawatiran ini mungkin terjadi, sehingga masyarakat desa kami mempunyai ketenangan untuk hidup. Jangan sampai di sisi lain tertawa karena mendapatkan ganti rugi, sedangkan kami harus menangis menunggu nasib apa yang akan terjadi kepada kami,” tuturnya panjang lebar. **[Galuh AS|Baron]

Jalan Lulurung Dibangun

Buahdua, Korsum

Pertumbuhan ekonomi pedasaan sangat dipengaruhi oleh sarana transportasi yang menghubungkan antar wilayah Desa. Di Kabupaten Sumedang, khususnya di pedesaan, sarana jalan masih terhitung kurang, sebab selama dua kali pergantian kepemimpinan, baik di Daerah maupun Pemerintah Pusat, anggaran untuk kebutuhan tersebut nyaris tidak ada.

Mengingat pentingnya sarana transportasi untuk merangsang para pelaku bisnis lokal dalam upaya meningkatkan taraf kehidupan ekonominya, maka dalam kondisi keterbatasan anggaran, Desa Buahdua, Kecamatan Buahdua, mengambil langkah yang visioner, sehingga mereka memulai usaha keras untuk mewujudkan sebuah jalan yang cukup permanen.

Pada tanggal 6 Juni 2009, warga desa mulai melaksanakan gerakan gotong royong. Proyeksinya, di Dusun II yang meliputi 4 wilayah RW dan 16 RT, dengan jumlah KK sebanyak 450, mencakup perkampungan diantaranya Dusun Bengang, Cilogang, Darongdong, serta Naringgul. Menurut keterangan dari warga setempat, jalan yang menghubungkan Cilogang-Pasirlutung itu konon merupakan jalan setapak. Kini memiliki ruas selebar 2,5 meter dan pembangunan jalan ini sepanjang 1.500 meter.

Dikutip dari hasil perbincangan dengan Kepala Desa Buahdua, Dadang S. Junaedi, maksud dan tujuan pembangunan jalan tembus Cilogang-Pasirlutung adalah untuk memudahkan mengangkut hasil-hasil pertanian, membuka, dan memfungsikan kembali jalan-jalan Lulurung alias jalan setapak yang telah ada sejak dahulu. “Juga untuk meningkatkan nilai jual harga tanah dan mempermudah pengembangan kewilayahan di masa yang akan datang,” ujarnya.

Mengenai anggaran biaya pembangunan jalan, seperti dijelaskan oleh Kades dan Ketua Panitia Pembangunan Jalan, Edi Cecep Supriadi, dari mulai tahap persiapan hingga perhitungan upah tenaga ahli dan swadaya, diperkirakan sebesar 80.290.000 rupiah. Pelaksanaan kerja dimulai sejak tanggal 6 Juni lalu. Setiap harinya dilakukan oleh rata-rata 48 orang.

Kades menjelaskan pula, hingga saat ini sudah terkumpul uang hasil pungutan swadaya senilai 50 juta, dan diharapkan adanya sumbangan dari pihak donatur, baik perseorangan maupun pemerintah. Dirinya yakin, tanpa uluran tangan pihak pemerintah atau warga yang peduli, pembangunan jalan akan mengalami hambatan. “Kepada warga masyarakat, khususnya warga Desa Buahdua, umumnya masyarakat Kecamatan Buahdua, saya selaku Kepala Desa, beserta segenap jajaran panitia, menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas partisipasinya. Dan semoga pembangunan jalan ini segera selesai,” pungkasnya. **[Indang|Adith]

Jembatan Cacaban Ambrol Pemkab Tak Peduli Keselamatan Masyarakat

jembatan

Jatigede, Korsum

Pemerintah Kabupaten Sumedang dinilai tidak peduli terhadap keselamatan warga masyarakatnya, hal ini terbukti tepatnya hari Jum’at pukul 06.00 WIB, sebuah Kendaraan Colt Diesel dengan No.Pol. Z 9070 A, terpaksa harus nungging (terperosok) di atas jembatan Cacaban di Desa Sukakersa, Kecamatan Jatigede. karena kondisi jembatan tersebut sudah rusak parah, kondisi tersebut dibiarkan oleh pihak pemerintah walaupun sudah beberapa kali diajukan warga. Seperti dikatakan Wawan salah seorang warga Desa Sukakersa Jum’at (19/6) saat menyaksikan kejadian tersebut.

Wawan menyayangkan sikap Pemerintah yang selama ini seolah-olah tidak peduli terhadap warga terutama warga yang terkena dampak genangan Jatigede, “jembatan ini setahu saya sudah lama rusak parah, saya merasa aneh, kok kenapa pihak pemerintah tidak begitu sigap untuk mengatasinya, apakah karena daerah ini akan digenang? kalau memang itu alasanya, tolong sesegera mungkin kami beri fasilitas untuk hidup”, ujarnya.

“Disini kami masih membutuhkan kehidupan yang layak, jembatan Cacaban itu merupakan penghubung dari wado ke lima Desa, yakni Desa Sukakersa, Cisampih, Cirangem, dan Desa Mekar Asih, dari kelima Desa ini rata-rata memiliki jumlah warga kurang lebih 2000 orang, jadi kalau dijumlahkan berarti sekitar 8000 orang, nah apakah yang 8000 orang itu harus mengikuti keadaan yang seperti ini terus menerus, sedangkan proyek Waduk Jatigede itu kan belum tentu kapan selesainya, kami sebagai warga yang akan digenang berharap, pemerintah memperbaiki jembatan ini. Karena jembatan ini sangat penting baik untuk transportasi, penghubung dalam pelayanan Kesehatan masyarakat, pendidikan menuju ke Wado dan lain-lain”, tambahnya.

Di tempat yang sama Dedi Sekdes Ciranggem menambahkan bahwa sebelumnya jembatan ini sudah pernah diperbaiki oleh warga dengan bahan seadanya, dan sudah dimusyawarahkan berbagai intansi yang terkait dalam waktu dekat juga ada rencana untuk diperbaiki namun sampai sekarang dananya belum ada. katanya.

Sedang menurut Kapolsek Jatigede AKP Zhony, yang pada waktu itu beserta jajarannya turut sigap membantu evakuasi Colt Diesel menjelaskan bahwa untuk perbaikan jembatan ini pihak pemerintah beserta jajarannya sudah ada bentuk usaha, “dulu kalau tidak salah sekitar tahun 2008 pernah ada bantuan berupa uang dari pemerintah senilai 20 juta untuk perbaikan, dan pada saat itu juga diperbaiki yang dilaksanakan oleh pihak ke tiga, namun kini jembatan ini mengalami kerusakan lagi, dan sekarang juga pihak pemerintah akan tetap berusaha untuk memperbaiki jembatan ini”, Ujarnya. **[Imadudin/Baron]

Pasar Tradisional Bagaikan “Sapi Perahan”

Kota, Korsum

Pasar Tradisional identik dengan kondisi pasar yang becek, kotor, dan kumuh, bahkan bau menyengat. Namun demikian, pasar tradisionil ini adalah salah satu penyumbang PAD yang cukup besar. Sayangnya, untuk penataan dan pengembangan terhadap sektor ini tidak pernah ada perhatian pemerintah. Pasar tradisional bagaikan “Sapi Perahan”, setiap hari diperas susunya, namun kebutuhannya tidak pernah diperhatikan.

Contohnya pasar tradisionil Tanjungsari, yang nampak semakin hari semakin kotor dan kumuh. Bahkan PKL pun semakin merebak dan meluber ke luar area pasar. Sementara itu, sekitar 95 kios di dalam pasar dibiarkan rusak karena tidak terpakai dan ditinggal kabur pemiliknya. Meskipun kios itu kosong, namun tetap masuk dalam target pendapatan pasar itu.

Anehnya lagi, target pendapatan (pajak) untuk pasar tradisional tersebut naik terus setiap tahun, sementara kondisinya tetap tidak berubah. Seperti diungkapkan kepala UPTD Pasar Tradisional Tanjungsari, Omay Komarudin, pada beberapa waktu lalu bahwa target pendapatan pasar pada tahun ini naik 14%, sedangkan kondisinya dibiarkan tidak ada perubahan. “Kalau untuk menutupi kenaikan target itu, sebisanya saja,” ujarnya.

Lebih parah lagi, Pasar Tradisional Parakan Muncang, Kecamatan Cimanggung, nyaris tak pernah tersentuh dengan penataan, apalagi pengembangan. Bahkan, menurut Kasi Pengembangan Disperindag, Didi Supardi, 3 Pengusaha yang dalam proses ekspos untuk pengembangan pasar Parakan Muncang, hingga kini belum ada titik kemajuan, dan disinyalir akan mundur.

“Tiga pengusaha itu tidak mau ke pembebasan lahan dan maunya ke fisiknya saja. Sementara itu, pihak Pemda terbentur dengan anggaran (APBD). Diperparah lagi dengan krisis global yang melanda sekarang ini, sehingga para pengembang itu lebih memilih mundur ketimbang mau maju sampai ke pembebasan lahanya,” tuturnya, Selasa (9/5).

Ditegaskan pula oleh Kabag Pasar, Deni Hanafiah, bahwa Pasar Parakan Muncang kondisinya sudah tidak layak, sehingga perlu adanya penataan dan pengembangan. “Kalau melihat kondisi anggaran, rasanya pesimis akan terwujud. Jangankan untuk membangun, yang ada juga tidak dipelihara, sebab masalah pembebasan lahan untuk RIPP saja yang sejak dulu sudah ramai namun hingga kini belum ada titik terang,” ujarnya pesimis. **[iyef saefudin]

Desa Sukarapih Wakili Sukasari Dalam Lomdes Kabupaten

Sukasari, Korsum

Desa Sukarapih, salah satu Desa di Kecamatan Sukasari, ditengarai sebagai peserta Lomba Desa tingkat Kabupaten. Penobatan Desa Sukarapih untuk mewakili tujuh desa lainnya, merupakan hasil musyawarah di Kecamatan serta atas dasar kesiapan kepala desanya. Menjadi wakil daerahnya, bagi desa Sukarapih merupakan suatu tantangan yang berat, sebab nantinya akan dihadapkan dengan desa-desa di seluruh Kabupaten Sumedang.

Demikian dikatakan Camat Sukasari, Asep Uus Ruspendi, di sela-sela musyawarah kecamatan, kepada Korsum, tanggal (28/4) yang baru lalu. “Terpilihnya Sesa Sukarapih ini bukan merupakan hasil penilaian, melainkan hasil musyawarah yang disepakati oleh seluruh Kepala Desa di Kecamatan Sukasari. Namun untuk tingkat Kabupaten, nanti diadakan penilaian khusus yang dilakukan oleh tim penilai dari Kabupaten yang diantaranya Kabid Pemdes, Didin Hermawan. Ada beberapa aspek yang akan dinilai, diantaranya pemerintahan, PKK, kelembagaan, ketertiban, kemasyarakatan, perekonomian, dan sosial budaya,” ujarnya.

Sedangkan Kades Sukarapih, Setiawan Saputra, mengharapkan dengan adanya lomba desa ini dan pembinaan diri ini, merupakan bahan acuan untuk melaksanankan pekerjaan sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing. “Kepala desa dan seluruh aparatnya itu merupakan panutan masyarakat,” katanya.

Sedangkan menurut Kabid Pemdes Didin, “Bekerja yang baik mempunyai rasa tanggung jawab yang besar, terutama di bidang PBB. Semoga saja setelah ada kegiatan ini menambah semangat masyarakat dan aparat. Untuk PBB itu sendiri, memasang target sekitar 43 juta, rata-rata pencapaian target 80% agar ada peningkatan.”

“Juga kami sampaikan terima kasih banyak kepada rekan-rekan kepala desa yang sudah membantu dan partisipasinya secara pemikiran anggaran demi suksesnya acara ini. Juga kepada seluruh warga, saya ucapkan banyak terima kasih yang telah mendukung kegiatan ini sehingga berjalan lancar,” pungkasnya.**[Suharna]

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv