<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

BONGKAR KEBIASAAN LAMA

Seperti sebuah sesi pembelajaran, dua tujuan awal yaitu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan mudah kita lakukan, tetapi tujuan terakhir, yaitu bagaimana peserta dapat merubah sikap, dari kebiasaan yang selama ini mereka lakukan, diganti oleh kebiasaan baru, sangatlah sulit. Butuh kesadaran dari diri sendiri selain faktor pemaksa dari luar.

Pun dalam pemerintahan, pergantian rejim yang selama 10 tahun menyeret birokrasi ke prilaku tidak unfair atau tidak profesional harus juga ditinggalkan, tentu saja komandonya adalah dari perintah dan contoh dari pemimpin baru kita.

Prilaku unfair itu dapat kita liat dari pemaksaan birokrasi masuk ke dalam politik praktis, masuk ke dalam jajaran profesional bukan hanya ke pakarannya/keprofesionalannya tetapi lebih kepada siapa dia, kedekatan, berani bermain mata, hingga pendekatan-pendekatan lainnya yang jauh dari sikap profesional.  Birokrasi di sumedang, pintar dan  cerdas tidak cukup, yang terpenting adalah berapa dekatkah dia dengan pusat kekuasaan, Daftar Urutan Kepegawaian (DUK), atau lebih ekstrimnya badan pertimbangan pangkat dan kepangkatan (Baperjakat) yang diketuai oleh Sekda tidak lebih dari pekerjaan sia-sia, karena penentuan lebih memakai indikator kaca mata politik.

Sehingga tidak salah bila seorang Dede Hermasah, yang kini menjabat Asisten Daerah menyebut kondisi ini sebagai anomali pemerintahan, artinya Dede menggambarkan bahwa pemerintahan selama 10 tahun ini tidak berjalan semestinya bahkan menyeret birokrasi ke jurang kehancuran. Parahnya lagi semua bersifat Transaksional.

Dari sikap unfair itu, kita bisa liat dampaknya? Sumedang hanya memberikan alokasi APBD bagi publik tidak lebih dari 20%, sedang untuk birokrasi 60%, sukwan siluman merajalela, pungli perijinan dengan PT. Wani Piro-Nya merajalela (bisa dilihat dari pendirian minimarket yang kurang mempertimbangkan dampaknya), perusakan lingkungan hidup tak berhenti (tampomas, kawasan pabrik cimanggung, dll), Korupsi masuk di segala sisi, produktifitas dan kualitas birokrasi menurun tajam (dapat dilihat dari hasil kerja dan kehadiran apel contohnya) hingga ketidaksiapan menghadapi perubahan zaman dari berbagai dampak proyek besar (Relokasi Jatigede terbengkalai, Cisumdawu menjadi momok bagi sektor ekonomi reel d sumedang).

Lalu apa solusinya? Hanya satu kalimat “BONGKAR KEBIASAAN LAMA”. Kebiasaan lama yang selama ini membelengu harus dirubah, mesin pengubah adalah pemimpin baru kita (HES – Ade).  Mampukah mereka merubah kebiasaan lama ini? Saya kira sangat mampu, selain modal legitimasi dari pemilih yang cukup signifikan, juga dari harapan warga yang sangat besar.  Artinya beban atau bola ada ditangan ke dua orang ini, sedangkan gerbong dengan otomatis mengikuti , tergantung “masinis” tersebut.

Kesimpulannya BONGKAR KEBIASAAN LAMA atau selama 5 tahun kedepan kita masih dalam kondisi anomali dalam pemerintahan, silahkan pilih.**

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv