<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Tahukah Anda, Sumedang Termiskin di Jabar?

edisi

Bila saja Pangeran Mekah, salah satu pendiri Sumedang yang paling fenomenal dan visioner, melihat kota sumedang saat ini, mungkin akan menitikkan air mata,  bahkan membuat gundah di alam sana.  Betapa tidak, beberapa angka statistik dan fakta di bawah ini menggambarkan betapa sumedang adalah sebuah kabupaten dengan sejuta potensi namun termiskin dari segi ekonomi.  Tahukah anda, dari segi umur, sumedang termasuk kota tua, angka 4 abad lebih bukanlah waktu sebentar, dari sumedang larang dapat menghasilkan beberapa kota terkenal di jawa barat, seperti bandung, bogor, cianjur, singkat kata kota-kota yang  berdiri antara sungai Cipamali hingga Sungai Cisadane adalah bukti peradaban sumedang larang yang nyata.

Namun di pusat kota Sumedang, yaitu Kabupaten Sumedang yang kita tempati sekarang ini, kini, sungguh berbeda 180 derajat. Bayangkan dari angka Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) hanya 4,22%, bayangkan dengan Subang (4,8%), Majalengka (4,66%), Garut (5,34%), Bandung (5,9%), terlebih Indramayu (11,51%). Ini fakta yang tak bisa terbantahkan. Layaknya Kabupaten Autopilot, yang bisa berjalan tanpa pemimpin sekalipun, karena miskinnya inovasi/terobosan dalam bidang ekonomi.

BPS (2009) melansir ada 86.111 KK miskin, bila 3 orang per KK maka ada 258.333 jiwa miskin.  Mari kita konversikan dengan banyaknya desa miskin, bila saja per desa jumlah penduduk rata 4.100 jiwa, maka tidak kurang ada 61  desa (22,4%) dari 272 desa masuk katagori miskin atau 6 kecamatan dari 26 kecamatan masuk kategori miskin.  Ingat katagori miskin versi BPS adalah yang berpendapatan Rp. 7.000,- /orang/hari, bayangkan bila standartnya memakai versi World Bank yang Rp. 10.000,-/orang/hari, pastinya angka diatas angka bertambah. Angka 258.333 jiwa, 61 Desa atau 6 kecamatan harusnya menjadi acuan pemkab membuat inovasi, bukan berjalan bak keong, nyaris tanpa upaya.

Pemerintah kadang tidak fokus, kantong-kantong kemiskinan adalah di sektor pertanian, ada 650rb bermatapencaharian pertanian, harusnya pemkab fokus ke sektor itu, bagaimana mengubah sektor sekunder ke tersier. Yang terjadi sekarang, tidak adanya sinergisitas antar sektor menjadi menambah parah ketidakfokusan pembangunan, pencapaian indikator dalam RPJMD ternyata tidak berpengaruh, karena secara kualitas pencapaian itu jauh panggang dari api. Para SKPD berjalan sendiri-sendiri, bahkan autis dengan sektornya masing-masing, tidak ada “tokoh penggerak” untuk membuat berjalannya sinergisitas tersebut. Sulit melihat kerja antar SKPD yang terstruktur, teratur dan terukur (Asep Sumaryana, 2011).

Sikap cari aman (safety first) dan cara kerja standar asal asalan dibalut kultur feodalistik Sumedang akan sulit melahirkan kebijakan shortcut berkarakter teknokratik, tantangan kedepan adalah perlu ada kebijakan dan strategi untuk merubah perilaku ekonomi masyarakat/agregat Pemda dari perilaku pekerja konsumtif ke arah perilaku produktif entrepreneur.

Melihat jangka waktu pemerintahan Don Murdono dan Taufik Gunawansyah yang hanya 1 tahun lagi, sepertinya sulit kita berharap, sedang berharap kepada bakal calon bupati, yang sekarang sedang menjabatpun, tidak lebih baik.

Menunggu keajaiban dan calon pemimpin alternatif**

Be Sociable, Share!

19 Responses to Tahukah Anda, Sumedang Termiskin di Jabar?

  1. dadi mardiansyah says:

    Sumedang bukan saja Termiskin di Jabar, tetapi TERKORUP SE-JAWA BARAT !!!!!

  2. yan's says:

    dadi mardiansyah.. biasanya kalo melihat komentar anda, maka anda termasuk orang2 pengecut.. kalau berani coba muncul ke permukaan..

    • Leni says:

      apakah anda seorang yang pemberani ????? kalo kecipratan seharusnya anda jujur dan tampil dimuka masyarakat dan berkata : ” aku kecipratan Euy….. ! “

  3. dadan says:

    yan’s…. ini fakta di lapangan bung…….
    anda bercokol di kabupaten ini untuk apa ????
    masyarakat tau kok siapa anda sebenarnya !!!! wkwkwkkkkkk…..

  4. buktikan kalo pemerintah sumedang bisa menuntaskan,masalah pembebasan lahan/jatigede.saat warga ada yg mnangis karna ulah jatigede.apakah ada tidak bisa melihat…??

  5. Nur says:

    Bangkit atuh sumedang8-)

  6. Panoongan says:

    karunya teuing…. mudah-mudahan nu beunghar na sing aringet ka fakir jeung miskin!!!!

  7. cry says:

    coba bangun jgn cm bcra

  8. Rheena sriana yunita says:

    Pantes aja.. Infrastrukturny sangat tidak memadai.. Jalan rusak parah, apalagi jalan pedesaan minta ampun dag kyx sungai kering.. Bagusin jalan, pasti kegiatan perekonomian lancar

  9. Sarekat Independen Bandung-SAINDUNG says:

    Saatnya MEMILIH pemimpin yg benar-benar pro-Rakyat, JANGAN PILIH pemimpin yg mengutamakan golongan/kelompoknya….

  10. neng says:

    bagus sekali, yg kaya makin senang dengan kekayaannya, dan yg miskin makin terpuruk dengan kemiskinannya.

  11. Rini says:

    Saya sebagai orang yang lahir di sumedang jd sedih mendengarnya,Sok atuh urang majukeun sumedang teh tong ngaharepkeun ka salah satu pihak wae,terutama ka para pamuda na sok atuh harudang . . . . . .

  12. abah says:

    bersyukurlah,,, karena “karuhun”mah teu salah,,sumedang ngarangrangan tinggal ngaran,, kebo mulih pakandangan,, pek pikiran nu hayang jadi “raja” sumedang

  13. buat website says:

    Excellent post. I used to be checking continuously this blog and I’m inspired! Extremely helpful info specially the ultimate part :) I take care of such info much. I used to be looking for this certain info for a long time. Thanks and best of luck.

  14. Ega wk says:

    Cukup prihatin dengan keadaan sumedang, semoga para pemikir Dan tokoh di sumedang bisa urun rembuk untuk kemajuan sumedang..

  15. Dedhy says:

    Mafia hukum,Mafia peradilan,Mafia politik,semua itu nyata dan transfaran di sumedang.
    knp KPK selalu gagal masuk k DPRD sumedang..???

  16. Sumedang says:

    Nek miskin/beunghar nu penting mah aing lahir di sumedang, kuring bunguah hirup di sumedang, tapi saeutik na bisa dahar keneh ti hasil kesang nu halal, teu jiga di kota sejen, kota beung har tapi loba kajahatan, ,

  17. An interesting discussion is definitely worth comment.
    I think that you ought to write more about this subject,
    it may not be a taboo matter but typically
    people don’t talk about these topics. To the next!
    Cheers!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv