<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Prestasi Olahraga di Sumedang? Lupakan

Skala internasional selain dapat mengibarkan bendera di sekitar kedutaan Indonesia di negara orang lain, juga prestasi olahraga adalah alternatif lainnya alasan untuk kita mengibarkan bendera indonesia, selain itu tentu saja dapat dikonotasikan lain. Ya, hanya olahraga yang dapat mengumandangkan lagu indonesia raya, mengibarkan bendera merah putih hingga teriak sekeras-kerasnya bangganya kita berbangsa indonesia di negeri orang. Tentu saja syaratnya harus berprestasi dan menduduki peringkat pertama.  Musim Seagames ini siap-siap saja, lagu Indonesia Raya kah yang sering berkumandang, lagu Majulah Singapura, Pleng Chard (thailand), Negaraku (Malaysia), Pujian untuk sultan (Brunai), atau Tiera Adorada nya philipina? Hmmm…. masih misteri.

Dalam konteks Sumedang, tidak banyak cerita tentang prestasi olahraga, dalam Porda memang kita belasan mendapat Emas, perak hingga perunggu, namun peraih emas tersebut banyak didapat dari pemain bayaran alias dapat beli dari kebupaten lain, bukan hasil dari pembinaan. Rupanya pemda senang memilih yang instan, tanpa mau bersusah payah membina bibit muda dari sumedang. Fenomena ini sudah sangat biasa, padahal bila kita harus memilih lebih baik tanpa medali tetapi memanfaatkan potensi lokal (dari hasil binaan yang panjang), daripada senang sesaat karena mendapat emas tapi hasil dari atlit belian.

Cerita pembinaan olahraga di sumedang, memang sangat miris, betapa tidak, dari sekian banyak olahragawan hasil binaan sendiri mungkin hanya menyisakan atlit dari cabang atletik, sepeda dan taekwondo yang berprestasi, selebihnya emas di dapat dari sistem bon pemain.  Pembinaan di sumedang bersifat sangat sporadis, belum menjadi kebijakan pemda yang benar-benar menginspirasi banyak pihak, pembinaan dilakukan oleh unit-unit kecil di sekolah-sekolah, selebihnya pembinaan berjalan bak keong nyaris tanps sentuhan pemda.

Jangankan pembinaan olahraga usia dini yang dapat kita contoh dari kebijakan Cina, Korea selatan, Rusia hingga Jepang yang begitu masif dan serius membina atlitnya, Dalam mengurus sarana olahraga yang ada saja tampak sangat tidak profesional, coba tengok Lapang Ahmad Yani, dibiarkan merana, lebih tepat kubangan kerbau atau arena beradu bagong daripada untuk bermain sepakbola, bahkan sekarang ditambah oleh tumpukan sampah di pojok lapang. Ini tentu saja sangat memprihatinkan kita, padahal di lapang becek jauh dari layak itu anda bisa lihat bibit-bibit muda dari SMP hingga SMA bermain tanpa lelah, semangat dan tanpa banyak tuntutan. Haruskah kita biarkan semangat itu layu?.

Lalu, darimana harus memulai? Perbaikan sarana prasarana olahraga dengan melibatkan sektor swasta salah satu pilihan, selain itu pertandingan/event olahraga scara kontinyu dilakukan baik mulai tingkatan SD hingga perguruan tinggi. Selanjutnya beri olahragawaan rangsangan, contohnya tawaran menjadi PNS bila mendapat Emas di Porda, atau era Ajat Sudrajat, jafar sidik dengan menempatkan para atlit di Bank-bank BUMN.

Sekali lagi, apapun itu, untuk sebuah perubahan, terkhusus  olahraga butuh orang-orang yang berpikir “gila”, karena sejarah membuktikan, pencapaian sesuatu prestasi hanya bisa terwujud bila dapat berpikir diluar kebiasaan dan fokus terhadap hasil.  Prestasi olahraga itu ranah ego, ranah harga diri, maka tidak tepat jiwa-jiwa pemburu rente masuk dalam gelanggang olahraga karena akan merusak jiwa sportifitas yang menjadi roh olahraga.**

Share and Enjoy:
  • Print
  • Facebook
  • Google Bookmarks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv