Korupsi dan Gairah Penegak Hukum
Pada dasarnya sulit mencari koruptor yang “rendah hati”, dengan menyimpan hasil kejahatannya di tempat dan orang lain. Menahan diri untuk tidak belanja, menahan diri untuk tidak hidup bermewah-mewahan dan menahan diri untuk berprilaku seperti baik. Memang di beberapa kasus, dalam rangka “pencucian uang” hasil kejahatannya, si calon rajin ke mesjid, sumbangan lebih banyak ke panti sosial, hingga pergi ke haji ber ulang kali. Namun tentu saja prilaku musang sulit ditutup dengan jubah kedelai yang lugu, suatu saat si musang keluar aksinya dan memangsa para ayam. Sepandai-pandainya bangkai itu di simpan, pada akhirnya akan tercium juga. Itu mungkin gambaran paling tepat untuk para koruptor menyembunyikan aksi kejahatannya.
Beberapa cerita calon tersangka korupsi ini memperlihatkan gejala yang sama, penampilan dan prilaku jauh dari sederhana, mobil mentereng dan melebihi jumlah kepala di rumahnya, rumah yang layaknya esselon ‘0” (saking melebihinya dari esselon 1) megah dan lebih dari 1, menumpuk kekayaan di uar kota, kadang beristri dua atau lebih, hidup hedonis, dan royal kepada “sesama” (artinya sesama yang dimungkinkan tahu akan aksi kejahatannya, dari pihak manapun). Gejala lainnya, si calon koruptor ini bertahan lama di kedudukannya sekarang, lama tak tergantikan, karena rajin dan patuh sebagai “penyetor pajak” kepada sang penguasa.
Di Sumedang? Sepertinya sama, anda bisa lihat, orang-orang yang dekat dengan kekuasaaan, tidak peduli kapable tidaknya bernasib baik (baca, untuk sementara), tanpa jelas prestasi, kedudukan tinggi tinggal menunggu waktu, dan takdir seperti dia yang ukir. Anda bisa lihat setiap orang yang dekat dengan kekuasaan selalu nyaris bernasib sempurna, dan gejala diatas, dengan hidup mewah tidak peduli orang curiga dengan yang pertontonkannya. Dan kita sebagai orang yang diberi akal untuk mengkalkulasi tinggal menunggu waktu saja, cepat atau lambat “kebenaran” itu akan tampak, tidak peduli di pendam di lumpur sedalam lapindo sekalipun atau di bungkus oleh kain hitam tebal tanpa cacad.
Para penegak hukum, Pers. LSM dan masyarakat sudah semakin kritis, layaknya sepakbola, enjury time adalah saat-saat kritis, menunggu lengah si calon koruptor itu, maka semua akan tercium dan terungkap baunya. Kita tunggu saja.
Kekuasaan tanpa kontrol cenderung korup. Maka kontrol dari masyarakat adalah kunci agak para penegak hukum kita selalu On fire, berjalan di relnya dan diberi kekuatan dari segala cobaan.
Beberapa kasus yang sedang masuk penyelidikan dan penyidikan seperti kasus pos bantuan (baik kasus Ayuh hingga Parcel), bidang pertanian , PPK PIM, Jatigede, Gitet, dan Alkes adalah beberapa kasus yang sedang di teliti, tentu kita berharap ini bukan menjadi alat pemeras para oknum penegak hukum, tetapi pembuktian kepada masyarakat bahwa rasa keadilan itu maish ada. Dan kita berharap itu ada. Semoga.**












Jakarta Time
Great! thanks for the share!
baca korsum edisi senin kemarin, kalau ternyata semua pengungkapan kasus-kasus itu sampai finish dan terbukti, saya jadi merinding ternyata sumedang….dan saya tahu ini baru permulaan masih banyak yang lain kali ya. Bravo!
Thank you also have visited our website ….