Pemimpin Sumedang Lemahnya Eksekusi
Memerintah konon mudah, mudah ketika pemimpin setia dengan kebenaran, setia pada kejujuran dan setia pada pengabdiannya. Namun akan terasa sulit ketika memerintah sudah tidak setia dengan kebenaran, ketidakjujuran dan pengabdiannya. Jadi semua berawal dari komitmen awal memerintah dan konsisten dengan tujuan awal tersebut. Apa yang terjadi di tingkat nasional hingga kabupaten sumedang sekarang ini yang terasa sulit melangkah adalah buah dari keraguan akan kesetian itu, keraguan atas komitmen awal untuk jujur dan ragu untuk mengabdi.
Kemampuan analisis sebenarnya sudah diajarkan ketika kita duduk di TK, kemampuan untuk menguji sebab dan akibat dari sebuah masalah. Anak TK, tidak sulit ketika harus membereskan puzel. Tanpa beban puzel yang berserakan itu disusun sesuai dengan bentuk dan ukurannya. Selesai.
Sedang Negara ini, soal macet saja sulit terselesaikan, macet diakibatkan karena soal banyaknya kendaraan dan tidak bertambahya panjang jalan. Hanya itu!! Artinya, bila memakai cara anak TK, gampang saja, penyebab sudah jelas, maka perlakuannya adalah kurangi kendaraan (kepemilikan dan tahun keluaran) serta penambahan panjang dan lebar jalan! Selesai!!.. namun prakteknya karena banyaknya kepentingan di dalamnya, dan berlaku “sangat dewasa”, dua jalan keluar itu menjadi mandul untuk di eksekusi, macet tetap berjalan tanpa bisa kita atasi.
Konteks sumedang? Soal jalan rusak? Gunung tampomas gundul dan minimnya APBD untuk kepentingan public juga jelas sebabnya, sehingga dengan jelas penyebabnya ini mudah untuk diantisipasi. Jalan rusak karena angkutan berat (cth. Angkutan batu bara), gunung tampomas rusak karena galian C yang membabi buta, serta minimnya APBD karena membengkaknya anggaran untuk pegawai. Solusinya adalah larang angkutan batu bara, larang galian C di Tampomas dan hentikan pengangkatan pegawai baru, minimal kan struktur dan pengsiundinikan pegawai tak berguna. Hanya itu, ya hanya itu!!.
Dalam perjalanannya, solusi itu mendapat halangan dan rintangan wajar saja, kembali ke paragraph awal, bila komitmen tetap terjaga, halangan adalah bumbu, halangan adalah seni dari seorang pemimpin, halangan adalah ladang pahala untuk pemimpin, dan halangan adalah pelajaran berharga untuk lebih dewasa. Yang terjadi sekarang, solusi itu sangat berat di realisasikan, karena rapuhnya komitmen itu, bahkan lebih tragis masuknya kepentingan pribadi dalam ranah public, memperkaya diri sendiri adalah satu miskomitmen dimaksud.
Jadi, pemimpin kita bukan tidak paham akan jalan keluar sebuah masalah, juga bukan tidak pintar secara akademik apalagi miskin inovasi, yang terjadi adalah miskinnya niat untuk membangun, lemahnya untuk berubah dan impotennya menjalankan inovasi.
Godaan jadi bupati adalah takutnya tidak menjadi bupati kembali, maka berlakukah seperti tidak menjadi bupati kembali, mengeluarkan kebijakan tidak popular dengan dasar untuk kebaikan warga adalah kebijakan yang harus diambil. Sekarang yang terjadi-soal 3 hal diatas- jalan tetap rusak, tampomas gundul hingga APBD minim adalah fakta bahwa pemerintah kita lemah soal eksekusi bukan tidak paham jalan keluar!! **












Jakarta Time