Lupa Masa Depan dan Fenomena IDL!!
Judul diatas adalah judul sebuah lagu dangdut, dengan irama koplo lagu tersebut enak bener di telinga. Dan untuk kondisi kekinian ungkapan Itu Derita Lo (IDL) cocok untuk kondisi negeri ini, bagaimana negeri ini akhirnya berjalan masing-masing, antara pemerintah dengan rakyatnya sudah berjalan masing-masing, pemerintah kemana, warga kemana…
Hirup pikuk negeri ini, yang berkutat hanya seputar korupsi, lemahnya keberpihakan Negara terhadap warga, korupnya birokrasi, tamaknya para penegak hukum menandakan kita sudah melupakan satu hal yaitu, masa depan. Negeri ini berjalan seperti lupa dengan masa depan ini, semua sibuk dengan urusan yang jauh dari kepentingan bangsa menjadi lebih baik. Sekali lagi, IDL lah!!
Apa yang kurang di negeri ini, menurut kajian peneliti futurolog internasional, pada tahun 2025-2030 Indonesia akan menjadi Negara maju, mengalahkan Cina bahkan jepang. Ini karena syarat-syarat untuk menjadi Negara maju sudah ada di negeri ini, adalah warga produktif tinggi (60% angkatan kerja) bandingkan dengan eropa yang justru hanya menyisakan 10-20% warga produktif, selebihnya warga tua yang sudah tidak produktif. Juga ada Sumber Daya Alam yang berlimpah dan cadangan devisa yang mencapai 100 Milyar dolar, bandingkan dengan jepang, amerika dan beberapa Negara eropa yang justru terjadi deficit –terlilit hutang-hingga 100-200% dari PDB masing-masing. Sedang pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6%/tahun, untuk ini pun kita diatas Negara-negara maju yang hanya 1-3%/tahun bahkan banyak yang deficit (Yunani dan Portugal contohnya). Sekali lagi, apa kurang kita??
Ternyata tidak hanya itu, impian menjadi Negara maju 2025 bisa jadi hanya mimpi, melihat kondisi negeri ini, yang abai dengan masa depan, maka Negara maju tersebut hanya mimpi. Negara yang sibuk berkutat dengan korupsi, bangsa yang berkutat dengan urusan golongannya saja, begara yang sibuk dengan urusan borosnya birokrasi dan Negara yang sibuk dengan menghabiskan sumber daya alamnya, dan Negara yang sulit mencari pemimpin berjiwa negarawan. Apapun syarat-syarat menjadi Negara maju diatas, akan hilang dengan sendirinya.
Ternyata otonomi daerah diartikan surga bagi para pemimpin yang tidak punya visi, dan bencana bagi warganya, alasan otonomi daerah semua hal tabu menjadi bisa. Dengan alasan otonomi daerah Sumber daya alam dikeruk habis-habisan, alasan otonomi daerah juga yang ada sekarang dibahiskan untuk sekarang, alasan otonomi daerah pembangunan apapun boleh di negeri ini bila perlu karaoke boleh, prostitusi boleh, judi boleh.
Semua uraian diatas adalah lupanya kita dengan masa depan, bukankah negeri ini adalah titipan anak cucu kita nanti? Warisan orangtua kepada anaknya tentu saja tidak hanya kekayaan yang melimpah, tetapi lebih bijaksana bagaimana kita (bangsa ini) mewariskan masa depan yang cerah, kondisi alam yang terjaga, landasan ekonomi yang kuat hingga mewariskan jiwa-jiwa pemimpin berpikir negarawan kepada generasi kita nanti. Ini semua harus diawali dengan contoh dari pemimpin, pemimpin yang visioner, berpikir masa depan lebih jelas, tujuan jelas dan dengan niat yang jelas. Bila syarat pemimpin hanya soal kompetensi, negeri ini tidak akan kekurangan, namun pemimpin yang berkompeten juga berintegritas yang kurang di negeri ini. Hmmm…. Itu Derita Loe!!**












Jakarta Time