<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Parodi di Gedung Rakyat

Gedung DPRD merupakan representasi dari suara rakyat, bahkan banyak yang mengistilahkan gedung rakyat. Namun, acapkali gedung rakyat tersebut hanya menjadi tempat parodi oleh sang penghuninya, seperti layaknya sebuah sanggar seni, untuk mengekspresikan lelucon dan guyon.

Terkadang para anggota dewan tidak menyadari segala gerak-geriknya selalu diawasi, sehingga kinerjanya selalu dipencrong oleh banyak mata. Anggaran yang dikeluarkan dari APBD yang bersumber dari rakyat, harus ditukar dengan kinerjanya yang harus semakin baik.

Jika berbicara kinerja, baru-baru ini, Jum’at malam, (22/7), ada adegan parodi yang ditunjukan mereka, persisnya pada waktu menjelang penyampaian pandangan umum fraksi atas 3 Raperda yang disampaikan Bupati.

Sulit rasanya anggota dewan mencapai kuorum (50%+1), hingga harus ditunda dua kali 30 menit. Apalagi anggota dewan dari fraksi golkar, tak satu pun kelihatan batang hidungnya di gedung rakyat waktu itu, tanpa alasan yang jelas. Ketua DPRD pun tak tahu mereka kemana.

Setelah dipaksakan dengan menghubungi anggota DPRD yang dianggap dekat atau tidak terlalu jauh dari kota, akhirnya terpenuhi kuorum. Namun, yang terjadi anggota dewan bukan untuk melakukan sidang setelah kuorum, akan tetapi hanya sekedar menggugurkan kewajiban untuk membuka sekaligus menutup sidang tanpa menghasilkan apapun, karena setali tiga uang dengan anggota dewan, pihak eksekutif pun, khususnya kepala daerah (Bupati/Wabup), tidak ada yang nongol, sehingga sontak kegiatan tersebut tidak bisa dilanjut.

Jika kita renungkan, berapa banyak waktu dan tenaga banyak orang yang terbuang sia-sia, waktu anggota dewan yang masih memiliki semangat untuk datang, waktu para eksekutif yang tetap hadir meski sudah lelah di siang harinya, waktu dan tenaga para staf yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, bahkan berapa anggaran konsumsi yang dikeluarkan dari APBD untuk kegiatan yang sia-sia tersebut. Sungguh ironis!!!

Efektif dan efisien dalam bekerja masih jauh panggang dari api. Lantas, apa yang bisa diharapkan dari mereka yang tidak menghargai waktu dan tenaga orang, jika mereka pun tidak bisa menghargai dirinya sendiri atas nama yang terhormat?

Share and Enjoy:
  • Print
  • Facebook
  • Google Bookmarks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv