Sumedang, Warga Yang Tidak Sopan?
Menarik mencermati ungkapan Bupati Don Murdono (DM) dalam lepas sambut Kapolres Sumedang yang baru, substansinya DM merasa keberatan dengan sikap pendemo jatigede yang menurutnya tidak sopan, DM menambahkna sikap kasar bukan jatidiri warga sunda.
Mari kita flasdback beberapa ratus kebelakang, betapa warga sumedang bahu membahu membangun jalan cadas pangeran, namun ketika tirani sudah tidak adil maka Pangeran Kornel berlaku kasar kepada Gubernur Jenderal waktu itu, bersamalam dengan tangan kiri dan tangan kanan siap menghunus senjata. Ini pesan yang harus diterjemahkan oleh semua pemimpin yang dzolim.
Warga Sumedang terkenal dengan santunnya, tengok ketika kerusuhan mei 1998, Sumedang relative aman. ini fakta tak terbantahlan bahwa Sumedang pada dasarnya berhati lembut dan berlaku sopan, namun ingat warga Sumedang akan berlaku kasar bila dirasa sesuatu sudah “kabina-bina”, apa yang diperlihatkan oleh warga Jatigede adalah bentuk sudah hilangnya kesabaran warga, titik klimaks dari perlakuan pemerintah yang sudah “kabina-bina” membiarkan ratusan ribu warga terbengkalai.
Baiknya DM instrospeksi diri, sudah berbuat apa untuk warga jatigede khususnya dan umunya untuk warga Sumedang, relokasi warga, pembelian tanah warga, pendataan warga semua dilakukan super terlambat, sehingga masalah menumpuk. Di satu sisi pembangunan sudah dimulai. Bila ini terjadi pada kita, mungkin kita akan berlaku sama, sehingga apa yang diperlihatkan warga demo dengan “sedikit” bicara tidak sopan sangatlah wajar dalam kultur komunikasi abad kekinian. Tanggapan DM yang bukan soal Substansi memperlihatkan seorang pemimpin yang cengeng, harusnya datangnya pendemo adalah bentuk silaturahmi warga kepada pemimpinnya. Sedikit bicara kasar adalah bumbu, dan tugas pemimpin untuk berlaku mengayomi, bukan malah membicarakannya di depan podium yang tidak ada warga jatigedenya.
Pemerintah lebih senang dengan projek-projek yang monumental, seperti pembangunan pusat pemerintahan, ditengah kemeriahan pemindahan pusat pemerintahan tidak pahamkah mereka ada ratusan ribu warga terbengkalai di tengah-tengah waduk jatigede?
Secara harfiah, pengertian tidak sopan mungkin tidak berkata secara lembut, namun secara lebih dalam pengertian “ketidaksopanan” sangat luas, pemerintah yang menelantarkan warganya, pemerintah yang membiarkan korupsi merajalela, pemerintah yang tidak mampu membangkitkan ekonomi, pemerintah yang memberikan biaya pendidikan mahal, pemerintah yang memberikan biaya kesehatan mahal dan membiarkan infrastruktur rusak adalah bentuk ketidaksopanan yang sesungguhnya pemerintah terhadap warga.
Kembali ke cerita Pangeran Kornel, Sumedang adalah warga sopan, namun bila tertekan maka perlakuan warga akan sangat tidak sopan, sekarang hanya berkata tidak sopan, saran kita, perbaiki perlakuan terhadap warga atau, seperti pangeran kornel, warga mengangkat senjata dan menyodorkan tangan kiri untuk bersalaman dengan Bupatinya. Mudah-mudahan itu tidak terjadi**












Jakarta Time
biaya pendidikan dan kesehatan di sumedang mahal? kenapa anak saya sekolah sampai smp gratis? berobat ke puskesmas juga cuma 5rb sekali datang. segitu mahal?
lagipula, kata siapa biaya pendidikan dan kesehatan pemerintah yang menentukan tarif?
naon hubungannana?
Lieur ngabanungan nana, ceuk itu kieu, ceuk ieu kitu,
pek we kumaha ceuk kidulur ahhh.