<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Yayasan Respati Sumedang Kisruh

AkbidSumedang, Korsum

Yayasan Respati Sumedang, yang menaungi Akademi Kebidanan (AKBID) Respati Sumedang, mengalami gejolak internal. Gejolak yang berakhir dengan kekisruhan ini berimbas kepada digantinya Direktur Respati dan menurunnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Akademi Kebidanan Respati Sumedang. Ini terlihat dari jumlah mahasiswa yang mendaftar dari angkatan pertama sejumlah 10 mahasiswa, disusul angkatan kedua 63 mahasiswa, angkatan ketiga 81 mahasiswa, dan sekarang menurun kembali menjadi 50 mahasiswa.

Kekisruhan berawal dari pengambilalihan yayasan yang diduga tidak prosedural dengan pemberhentian sepihak Sekretaris I Yayasan Respati Sumedang Mustofa, oleh Pembina Yayasan Respati, Ny. Mugiarti Widodo, atas usulan dari Ketua Yayasan Pendidikan Respati Jakarta. Keputusan ini mendapat reaksi keras dari Mustofa sebagai Sekretaris I Yayasan, dan nama Mustofa sendiri berdasarkan keputusan Menkumham RI No. C 2991.HT.01.02. tahun 2006, adalah yang diberi kuasa dan dengan demikian sah mewakili dan oleh karena itu bertanggung jawab sepenuhnya untuk dan atas nama-nama seperti yang tertera di Akta Pendirian Yayasan Respati Sumedang tersebut.

Menurut Mustofa, sesuai dengan AD/ART Yayasan, pergantian dan pemberhentian pengurus adalah lima tahun, adapun tentang hal lain harus melalui rapat pleno pengurus. “Dengan kata lain, pemberhentian saya adalah tidak sah. Karena, selain tidak sesuai dengan AD/ART, juga tidak prosedural,” katanya kepada Korsum beberapa waktu yang lalu.

Mustofa menjelaskan, Surat Keputusan Nomor 13/SK.P/Yares/VII/10 tentang pemberhentian dirinya dari jabatan Sekretaris I Yayasan Pendidikan Respati Sumedang tidak sah, karena selain menggunakan Kop Surat Yayasan Respati Jakarta, juga menggunakan cap Yayasan Respati Jakarta. “Yayasan Respati Sumedang berdiri sendiri bukan cabang dari Yayasan Respati Jakarta, karena AD/ART nya juga terpisah,” jelasnya.

Masih menurut Mustofa, dirinya mempersilahkan kalau Yayasan Respati Sumedang mau diambil-alih, asalkan melalui prosedur yang jelas dan benar. “Mau ambil alih silahkan, asal melalui prosedur yang jelas. Dan, nanti siapa yang akan mundur, kalau saya yang mundur berarti harus jelas kompensasinya. Juga, kalau pihak Pak Widodo yang mundur, berarti saya yang harus bayar berapa investasi dia yang telah dikeluarkan,” tambahnya.

Kisruhnya permasalahan yayasan berimbas terhadap proses Akreditasi Akbid Respati Sumedang. Hingga diwisudanya lulusan pertama pada Kamis (14/10) kemarin, masih belum keluar hasil akreditasi Akbid yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Jakarta beberapa bulan yang lalu. Salah satu alasannya, menurut Mustofa, adanya Pembatalan Yayasan Respati Sumedang oleh BUPP Jakarta.

Menurutnya Mustafa, dirinya telah berusaha melobi BAN-PT. Oleh pihak BAN-PT diarahkan supaya menghadap Koodinator Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS) Jawa Barat dan hasilnya KOPERTIS  menyarankan diadakannya islah internal yayasan. “Karena saya merasa bertanggung jawab, dan untuk menyelamatkan nasib anak-anak mahasiswa, maka saya melayangkan surat kepada Pengurus Yayasan Respati Sumedang di Jakarta melalui fax pada Rabu, (13/10), untuk mengadakan Rapat Pengurus pada Jum’at, (15/10). “Pada pertemuan ini, diharapkan kita semua dapat duduk bersama untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini, tetapi mereka tidak hadir tanpa alasan apapun,” paparnya sambil berkata, penyelesaian permasalahan ini akan tetap dilakukan secara kekeluargaan demi keselamatan mahasiswa.

Sementara, dikonfirmasi Korsum di Graha Insun Medal dalam acara wisuda angkatan pertama Akbid Respati Sumedang, Kamis (14/10), Direktur baru Akbid Respati Sumedang, Teny Nurlatifah, S.S.T., M.Keb., enggan berkomentar. Namun, dia menyerahkan semuanya kepada Tata Kurniawan bagian akademik.

Tata menjelaskan kepada Korsum tentang hasil akreditasi yang hingga kini belum keluar. Menurutnya, untuk akreditasi, sejak Juni 2010 lalu sudah dilakukan visitasi oleh BAN-PT dan sekarang sedang menunggu hasilnya. Dia berharap, karena proses ini sudah lama, setelah wisuda ini akreditasi bisa keluar agar mahasiswa yang sudah di wisuda secepatnya mendapat ijazah yang sudah terakreditasi.

Disinggung tentang kisruhnya Yayasan Respati Sumedang, Tata mengatakan hal itu tidak akan berdampak pada proses akademik. Bahkan, dari yayasan pusat di Jakarta, sudah secara tegas menyatakan Akbid Respati Sumedang tidak akan dibubarkan.

Ketika ditanya terkait hubungan yayasan pusat di jakarta dengan Yayasan Respati Sumedang, Tata mengaku tidak berkompenten untuk menjawabnya. Dirinya selaku pengelola akademik atau pengelola mahasiswa sebatas memiliki tanggung jawab atas sepuluh orang mahasiswa yang akan wisuda hari ini. Selain itu, Tata berharap permasalahan yang berkecamuk di luar, ditambah isu-isu yang lain, jangan sampai menghambat yang sepuluh orang ini.

Ditanya tentang jabatan direktur yang lama, yakni Een Kurniasih, yang saat ini sudah digantikan oleh Teni Nurlatifah, Tata mengatakan bahwa sebetulnya pihak yayasan tidak mengeluarkan Een, hanya saja beliau diberikan tugas yang lain yaitu tugas untuk pengembangan Akbid ini menjadi Stikes. “Namun, atas dasar pertimbangan beliau, dia lebih memilih mengundurkan diri,” jelasnya.

Sementara, Direktur D-III Kebidanan Akademi Respati Sumedang yang lama, Bidan Een Kurniasih, S.Km., M.Kes., ketika ditanya melalui pesan singkat, Jum’at (15/10), mengenai penggantian dirinya, mengatakan bahwa tidak ada kejelasan dari BUPP atau yang mengatas namakan yayasan. “Saya sendiri lagi menunggu keputusan, karena satu surat pun tidak saya terima, baik penggantian saya sebagai direktur atau saya dialihkan. Mereka langsung melantik direktur baru dan saya tidak diberitahu terlebih dahulu,” katanya.

Ditanya tentang akreditasi, ia menjelaskan, “Saya sudah usahakan dan sebenarnya sudah terlaksana visitasi dari BAN-PT, tinggal menunggu hasilnya. Tetapi ada kendala permasalahan, pihak BUPP, dalam hal ini Pak Widodo, mempunyai masalah dengan pihak yayasan, yaitu Pak Mustofa, sehingga berdampak pada hasil akreditasi,” jelasnya.**[Dodoy Dokkil/Macko]

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv