<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Galian C Selareuma Toni, “DPRD Pro Pengusaha”

Kota, Korsum

Seperti dilansir koran ini sebelumnya, terkait pemberhentian sementara penambangan galian C batu nangtung Selareuma, yang berlokasi di Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan,  oleh Polwil Priangan untuk dikaji ulang atas dugaan situs, ternyata masih bermasalah. Pasalnya, hingga kini belum ada kejelasan sikap dari pihak Pemda Sumedang  mengenai kelanjutan status batu itu.

Akhirnya, masalah ini berujung demo yang dilakukan LSM GMBI beberapa waktu yang lalu. Demo ini bertujuan untuk menutup dengan segera penambangan tersebut. Mereka berpegang kepada hasil pengkajian tim independen yang terdiri dari peneliti arkeolog, ahli sejarah kuno, dan filolog, yang menyatakan bahwa Kampung Selareuma (batu nangtung) pasir reungit yang dikelola CV Stone House tersebut dinyatakan memang situs atau cagar budaya antropolog, sehingga harus dijaga dan dilestarikan.

Namun, pihak DPRD, khususnya Komisi D, yang bertugas melakukan investigasi, tidak menemukan pelanggaran yang dilakukan pengusaha Stone House. Perijinan yang dikantongi pihak pengusaha sudah lengkap dan sah, hingga merekomendasikan kepada Pemerintah untuk dilanjut. Di sisi lain, sebagian anggota DPRD mensinyalir permasalahan di Selareuma berawal dari persaingan bisnis semata.

Hal tersebut sontak membuat geram Ketua Distrik GMBI Kabupaten Sumedang, Toni Tarsono. Menurutnya, analisis dewan yang menyebutkan adanya persaingan bisnis semata merupakan analisis yang dangkal dan tidak berdasar. “Hasil penelitian tim ahli independen pun sudah jelas menyatakan situs, lalu parameter apa yang dipakai dewan? Justru saya berpikir, ada parameter lain apabila dewan mengizinkannya. Jelas sekali sangat berpihak pada pengusaha. Ada apa ini?” ujarnya, Jum’at (6/3), di sekretariatnya.

“Padahal, dewan seharusnya melihat kepentingan rakyat. Kalaupun status batu tersebut masih dianggap perdebatan karena hanya logika yang dipakai, kenapa logika itu pun tidak dipakai untuk melihat sejauhmana perbedaan batu Selereuma dengan batu lainnya? Kenapa batu itu bernilai tinggi dan menjadi bahan ekspor?” lanjutnya.

“Apakah dewan akan menyamakan perlakuan penambangan batu nangtung Selareuma yang bernilai tinggi dengan batu belah di Tampomas? Apakah tidak berpikir untuk meningkatkan PAD demi kesejahteraan masyarakat dengan mengeluarkan perlakuan khusus kepada penambangan itu?” pungkasnya dengan perasaan heran. **[Dodoy Dokkil]

Be Sociable, Share!

One Response to Galian C Selareuma Toni, “DPRD Pro Pengusaha”

  1. maman says:

    dalam setiap perizinan selalu melalui pengkajian secara keilmuan, dalam hal ini kenapa pihak pemda sumedang memberikan izin untuk penggalian, kalau tidak dilakukan pengkajian terlebih dahulu…..jadi lebih baik….tanyakan langsung ke pemda sumedang kenapa izin dikeluarkan….masa harus dicabut kembali, alasan pencabutan juga harus jelas jangan karenaada tekanan dari masyarakat kemudian izin trsbt di cabut….kapan sumedang mau maju kalau investasi dihalangi terus…….coba fikirkan bro….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv